Tanggal 5 November 2012, tepat awal kita jadian.
Halaman samping sekolah adalah saksi bisu cinta kita bersatu. Hari-hari aku jalani bersamanya. Dia sabar,
mengerti apa yang ku mau, dan sangat penyayang. Sebut saja namanya roziqin.
Hanya saja aku sadar, aku sering memarahinya karna alasan sepele.
Oh
ya kenalkan namaku Yuri. Aku siswa SMP yang sedang duduk di kelas 3. Tepatnya di
kelas 3b. Cowok yang tadi aku ceritakan dia satu sekolah denganku, tapi kita
beda kelas. Dia di kelas 3d.
Aku punya 5
sahabat yang bener-bener cantik J
kenapa aku bilang cantik? Karna sahabatku ya cewek semua. Kenalkan mereka
adalah nita, amel, ade, lia, libna. Satu-satunya yang berjilbab hanya libna.
Seperti tadi
yang udah aku bilang, cowokku bener-bener sabar banget. Nada bicaranya yang
sangat kalem bikin aku luluh. Secara fisik menurut orang-orang dia itu
standart, standart banget malah. Alias jelek. Menurutku juga gitu, tapi ya
karna hatinya yang bener-bener baik bikin aku suka. Di tambah lagi dia gak
pelit, bahkan hampir semua yang aku mau dia turutin. Baik banget kan.
Dia punya
tubuh yang tinggi, putih, kurus (kurus banget :D) dan rambut tipis yang sedikit
keriting. Hidungnya mancung, kelopak matanya besar, dan punya badan yang
keringetan mulu.
Lambat laun
aku ada di kelas 3b, lama-lama aku punya temen cowok baru yang bener-bener asik
dan gokil. Sebut saja namanya Ari dan Iwan. Diantara dua cowok itu, Iwan lah yang
paling dekat dengan kami berenam. Soalnya dia suka kasih nasehat-nasehat
mujarap buat kita para cewek-cewek.
Misalnya dia sering bilang gini
“cowok itu Cuma MANIS di bibir. Jangan sampek terpengaruh sama omongannya itu”
“pacaran itu santai aja,tapi jangan mau dibawa pacar keluar kemana aja
tanpa izin ortu. Di jemput di depan gang lha. Itu kan gak etis, emang kalian
cewek murahan. Emang mau pas nyampek ke rumah kalian udah gak PW lagi”
Dan masih banyak lagi
nasehat-nasehatnya yang lain.
Tiga
bulan berlalu hubunganku dengan roziqin. Siangnya aku denger kabar dari libna
kalo roziqin baru dapet jaket dan topi dari fira. Fira adalah mantan roziqin
sebelum aku. Hatiku mulai panas gak karuan. Aku Cuma bisa nangis dihadapan
sahabat-sahabatku.
“udah yur, itu cewek emang
gatelan. Kamu yang sabar ya” kata nita
“gak bisa sabar kalo gini
caranya! Pokoknya nanti aku mau ketemu sama roziqin”
“kamu harus temuin keduanya. Fira
sama roziqin. Biar semuanya clear. Sapa tau Cuma salah paham” kata libna
“iya bener yur, kalo kamu mau
langsung Tanya roziqin, mungkin dia gak bakal ngaku. Udah tenang dulu, besok
aku bantuin kamu temuin mereka berdua” ujar amel
Aku yang masih
menangis terseduh-seduh, mengiyakan semua nasehat sahabatku. Tak lama Iwan
datang.
“nangis Cuma gara-gara cowok?
Cewek lemah!” ujar Iwan
“aku bukan cewek lemah!!”
Segera aku
hapus air mataku dan bergegas pulang. Aku tau maksud Iwan baik, dia Cuma gak
suka lihat cewek nangis walau caranya sedikit kasar.
Esoknya…
aku suruh Roziqin buat ke kelasku
“tunggu sini ya sayang aku mau ke
depan sebentar. Sebentar aja kok” ujarku
“iya..jangan lama-lama ya”
jawabnya
Segera aku
berlari menuju kelas cewek gatelan itu. Ups! Maksudku fira. Dia lagi makan
cemilan di kelas bareng temen-temennya
“fira J ikut aku sebentar yuk. Aku
mau ngomong penting nih”
“gak mau yur. Mau ngapain?”
jawabnya
Aku mulai naik darah saat
beberapa kali dia gak mau aku ajak. Langsung aja aku tarik tangannya
“ayo sini cepetan!! Susah banget
sih Cuma mau ngomong aja”
Saat
sampai di sana, Roziqin kaget saat aku bawa fira. Kami lalu duduk dengan
posisiku yang berada di tengah-tengah mereka.
“kamu kemarin habis ngasih
jaket?”
“iya” jawab fira sambil mainin
bungkus makanannya
“dia Cuma mau balas budi sama
aku” roziqin mulai menjawab
“diem dulu! Fir, Atas dasar apa
kamu ngasih jaket?”
Fira Cuma diem. Lagi-lagi dia
mainin bungkus makanannya itu. Aku mulai bertanya balik pada roziqin
“kenapa kamu terima?”
“dia Cuma mau balas budi sama
aku. Mangkannya aku mau terima.”
Menurutku itu
adalah alasan yang gak logis. Mataku mulai menggenang air. Lia datang dan bisikin
sesuatu di telingaku
“langsung to the point aja
yur”
Aku balik bertanya pada fira
“kamu masih sayang sama roziqin?”
Dia masih diam membisu. Aku
kembali bertanya pada roziqin
“kamu pilih aku apa dia?”
Berkali-kali
aku bertanya tapi sama seperti fira, tak ada jawaban. Air mataku mulai
menggenang. Aku merasa di gantung oleh mereka berdua. Perlahan mulai banyak air
mataku yang menetes. Tak lama roziqin mulai menjawab.
“aku sama-sama masih sayang sama
kalian berdua, aku gak bisa milih diantara kalian. Aku mutusin buat gak milih
ke duanya”
Fira mulai
meneteskan air matanya pula. Untuk apa? Apakah untuk meminta belas kasihan dari
roziqin? Yang pantas nangis di sini Cuma aku. Karna Cuma AKU yang di sakiti.
Kasarnya, aku nyaris di selingkuhi. Untuk apa dia nangis? Dia Cuma cewek gatel
yang berusaha merebut roziqin dariku.
“aku minta maaf. Aku masih sayang
sama cowok kamu. Tapi aku janji gak bakal ganggu kalian lagi.” Ujar fira
Bel
masuk berbunyi. Dia kembali ke kelasnya, roziqin juga. Dia pergi tanpa
meninggalkan sepatah katapun. Saat kelasku masuk,ternyata Jam pelajaran kosong, kelas mulai ramai. Aku
kembali menangis terseduh, karna menurutku belum ada kejelasan hubunganku ini.
Sahabat-sahabatku tetap menemaniku. Entah pikiranku kemana saat itu, aku emosi.
Di depanku terlihat sebuah cermin kecil. Cermin yang selalu digunakan
temen-temen cewekku saat sedang dandan. Tak pikir panjang aku pecahkan kaca itu
di depan meja dengan penuh emosi.
Piiaaarrr…
begitu bunyi kaca itu saat pecah di atas meja.
“Ya Allah yur, nyaris kena wajahku”
jawab ade
“ bodoh kamu! Mencelakakan
sahabat sendiri Cuma buat cowok jelek itu” sentak Iwan
Aku
terdiam, sadar apa yang kulakukan di luar batas. Aku segera meminta maaf pada
ade dan membersihkan pecahan cermin itu.
Sorenya
roziqin sms aku. Dia minta kalo kita jangan sampek putus. Apa maksudnya? Apa
karna fira yang sudah mundur mangkannya dia milih aku. Atau karna memang dia
benar-benar tulus? Entahlah… lagi-lagi aku mengiyakan perkataan roziqin itu
dengan syarat jaket dan topinya di kembalikan lagi ke fira di depanku. Semua
yang aku minta dia lakukan. Tapi aku mulai malas dengannya sejak kejadian itu.
Walau pun perhatiannya kini sangat over terhadapku.
Perlahan aku
mulai menjauh dari dia, tapi gak jauh-jauh amat sih soalnya masih ada rasa
sayang sedikit :D Berbeda dengan
kedekatanku bersama Iwan, kami jadi dekat. Malah sangat dekat.
Saat aku lagi
sakit dia suapin aku roti. Walau pun rotinya juga ujung-ujungnya di habisin
dia. Iya.. Iwan memang sosok cowok yang sangat humoris, tapi kalo sudah urusan
nasehatin, dia bakal bersikap sangat keras. Dia tinggi, kulitnya sawo
mentah,badannya berisi dan wajahnya ganteng. Hanya aku tau dia punya banyak
kekurangan. Di pelajaran dia sangat jauh di bawahku. Terkadang dia juga suka
cerita-cerita ngeres gitu, tapi masih pada batas-batas tertentu. Dia terbilang
cowok yang nakal, sebab dulu di kelas 2 dia pernah minum, dan konsumsi obat.
Tapi kini dia berhenti memakai barang itu, sebab perlu tes kesehatan untuk
masuk SMK favorit. Kini dia hanya merokok. Walau dia nakal, pikirannya masih
waras. Maksudku masih punya akal untuk berfikir dewasa dan realistis.
Aku gak tau
dia punya rasa yang sama atau ndak sepertiku. Aku mulai merasa nyaman dan suka
saat bersamanya. Kami jadi sangat sering curhat-curhatan, suap-suapan, bahkan
sayang-sayangan. Yap! Dia sering nyebut aku dengan sebutan “beb”. Pastinya
tanpa sepengetahuan roziqin. Dia juga sangat sering bersikap genit denganku.
“beb..bebeb.. sini beb.. kangen
aku”
“apa seh kamu ini wan” jawabku
“kok gitu kamu beb sama aku? Sini
wes biar gak marah aku suapin coklat ya beb. Akkhh…”
“aaeemmm… nyam nyam. Lagi beb”
Hah?
Apa aku tadi bilang? Aku panggil Iwan beb? Sebelum-sebelumnya aku gak pernah
manggil dia beb walau Iwan sering panggil aku itu. Kami sejenak terdiam. Dan seketika
teman-teman sekelas tertawa dan berteriak seru”cciieee”
Aku sendiri
gak percaya sama perkataanku tadi. Tapi bayangin deh, cewek mana yang gak
kepancing kalo hampir setiap hari di panggil beb sama cowok lain. Yaa.. pada
akhirnya setiap hari kita jadi sering panggil beb-beb’an deh.
Empat bulan
lamanya hubunganku dengan roziqin. Dia mulai curiga tentang kedekatanku dengan
Iwan. Entah mungkin dia mendengar kabar dari kawan-kawannya.
“kamu kok deket banget sih sama
Iwan?” Tanya roziqin
“iya kami kan sahabat.” Jawabku
“sahabat kok deket banget gitu. Hampir
kemana-kemana kalian itu berdua. Pokoknya jauhin Iwan kalo emang kamu sayang
sama aku.”
Percakapan
singkat itu buat aku gelisah. Esoknya aku bicara dengan ke lima sahabatku,
termasuk Iwan.
“guys..aku mau ngomong penting
nih.” Sejenak aku menarik nafas panjang, lalu aku melanjutkan pembicaraan
“ aku suruh jauhin kamu wan. Roziqin bilang
kita terlalu deket.”
“ hah? Gak adil donk. Kita kan
sahabatan. Masak Iwan suruh jauhin kamu!” jawab amel dengan nada sewot
“iya aku tau. Tapi kata roziqin
aku sama Iwan itu berlebihan” jawabku pasrah
“enggak kok. Roziqin aja yang
cemburuan. Harusnya dia ngerti kalo Iwan itu sahabat kamu. Jadi wajar kan kalo
deket.” Nita menyaut
Sejenak
Kami Semua diam terhening. Tak lama seseorang mulai berbicara.
“ok aku bakal jauhin kamu yur”
sahut Iwan yang kemudian bergegas pergi ke kantin sekolah
Jawaban Iwan
yang begitu singkat buat aku hancur.
“apa? Secuek itu kah dia? Kenapa
dia serasa gak peduli? Apa selama ini aku Cuma ke GR’an karna di panggil “BEB”
sama dia? Atau dia Cuma mau narik ulur hatiku?” batinku dalam hati
Dua
hari berlalu. Suasana kelas menjadi sedikit sepi karna Iwan yang biasanya kocak
di kelas, kali ini terdiam. Di kelas kami tak saling menyapa. Memanggil namaku
saja tidak. Terasa miris rasanya perasaan ini. Aku gak kuat dengan keadaan ini.
Bel
istirahat berbunyi. Roziqin datang ke kelasku. Aku ingin ungkapkan segalanya,
aku gak tahan bila tak saling sapa dengan Iwan. Tapi di lain sisi aku ingin menjaga
perasaan roziqin. Maka aku memilih untuk diam saat bersamanya.
Sepulang
sekolah roziqin menghubungiku.
“aku tau kamu lagi sedih. Dan aku
tau kamu sedih kenapa. Besok sepulang sekolah aku mau ngomong sama Iwan. Tolong
sampe’in ke Iwan.”
Kira-kira
seperti itu bunyi smsnya. Aku segera sampaikan pesan itu pada Iwan.besoknya
mereka memang bertemu. Mereka lumayan lama ngobrol. Tapi aku gak tau mereka
lagi ngobrol apa, lantaran aku hanya di suruh tunggu di bangku depan kelas. Aku
hanya memerhatikan mimik muka mereka. Sepertinya ada perdebatan keras di sana.
Aku hanya berharap mereka gak main pukul.
Perbincangan selesai. Roziqin datang dengan
muka marah. Aku belom pernah melihatnya seperti itu. Dia tarik lengan bajuku
dan menyuruhku duduk di tempat lain. Tak biasanya dia kasar seperti ini
denganku. Tak lama dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Benda itu
adalah Kalung couple yang pernah
kuberikan dulu kepadanya.
“apa yang akan dia lakukan dengan
kalung itu?” fikirku
Tak
lama dia lempar kalung itu di depanku dan berkata
“aku sudah gak kuat. Kita putus”
kata roziqin sambil pergi meninggalkanku.
Hah?
Begitu kacaunya hatiku saat itu. Tak biasanya dia kasar seperti ini denganku.
Kalung yang selalu dia pakai kemana pun, kini begitu saja di lempar di depanku.
Aku marah,emosi, aku benci dengannya. Rasanya tak pantas ku tangisi cowok seperti
dia. Sahabat-sahabatku datang menghampiriku.
“gimana yur?” Tanya libna
“putus”
“hah? Beneran?” jawab ade
“iya beneran. Sudahlah, aku sakit
hati sama dia. Dia sudah kasar sama aku. Woles aja. Aku seneng kok terbebas dari
dia.” Jawabku dengan memasang wajah ceria
“bagus deh. Lagian kamu cantik.
Banyak yang mau sama kamu.” Sahut Iwan yang tiba-tiba datang
Setelah
kejadian itu,bukan main… aku jadi semakin dekat dengan Iwan. Seperti orang
pacaran saja.
Tanggal
28 Maret 2013, sahabatku nita berulang tahun. Dia mengajak kami untuk karaokean
bersama. Saat masuk di ruangan karaoke kami langsung mengambil posisi duduk.
Sofa yang di sediakan memang cukup panjang, sekitar 3meter panjangnya. Aku
duduk di ujung kursi di sebelah amel.
Tiba-tiba Iwan memanggilku
“beb sini sama aku. Jangan
jauh-jauh”
“itu lho bebebnya pengen deket
kamu yur” jawab nita
Aku
segera di tarik oleh Iwan untuk duduk di tengah bersamanya. Tak lama setelah
bernyanyi puas, aku merasa mengantuk karena udara dingin dari AC.
“ngantuk beb? Sini tidur” kata
Iwan sambil menepuk bahunya
Aku
hanya diam sambil merem melek menahan rasa kantuk. Tak lama aku mulai tertidur
pulas. Sangat pulas. Entah berapa lama aku tertidur.
Saat
bangun, aku mulai bingung. Bahu siapa yang aku tiduri ini? Ya ampun! Apa bahu Iwan?
Tapi aku merasa nyaman. Tapi dia kan sahabatku. Gak! Gak boleh, aku harus
bangun.
Perlahan aku buka mataku dan
bangun dari bahu Iwan
“sudah bangun?”
“sudah. Maaf ya wan. Tadi aku
tidur di..” belom selesai bicara Iwan langsung menyahut
“oh gak papa” sambil tersenyum
manis
Perlahan
aku rasakan detak jantungku berdetak sangat kencang saat di sebelahnya. Ya
ampun… apa yang aku rasakan ini? Aku gak boleh suka sama Iwan. Iwan itu sahabat
kamu! Aku lihat lagi wajahnya. Begitu dekat denganku hingga terasa wajahnya
sangat indah di mataku. Jantungku mulai berdebar kencang lagi.
Tak
lama setelah itu kami keluar dari tempat karaoke itu dan bergegas mencari
makan. kembali sikap Iwan yang mulai genit saat aku duduk jauh dengannya saat
akan makan.
“beb sini lho. Mak jauh-jauh seh”
“iya-iya”
Kami
memesan makanan. Dan seperti hal nya Iwan, dia selalu suapin makanannya
untukku. Kali ini aku menolak, karna aku merasakan hal aneh pada diriku.
Hari
terus berganti. Iwan yang biasanya gak pernah sms aku, kali ini sms aku. Kita
jadi sering telfonan, sms’an. Pokoknya jauh lebih deket dari biasanya.
Sedangkan
hubunganku dengan roziqin masih berjalan baik. Kami masih berkomunikasi seperti
halnya teman. Tanggal 25 april 2013 aku selesai melaksanakan UN, dan esoknya
kami siap berangkat menuju Bali untuk melaksanakan rekreasi J tapi sedihnya semua
sahabatku gak bisa ikut soalnya mereka ada urusan masing-masing. Kecuali hanya
Iwan yang bisa ikut ke Bali. Senengnya.. senggaknya ada yang nemenin.
“beb besok ke Bali sama aku aja
lho”
“iya-iya”
“kita habiskan waktu kita bersama
di Bali beb Jok beb?” ujar Iwan
“iya Iwan bawel” jawabku
Sepulang UN
roziqin sms aku. Dia bilang mau pamit ke Bandung buat ikut ibunya yang kerja di
sana. Aku mengiyakan permintaannya untuk bertemu denganku. Sebelumnya aku
bilang pada Iwan, karena takut terjadi kesalahpahaman.
“ada apa roz?” tanyakku. sedikit
lama dia terdiam dan akhirnya mengucap sebuah kata
“sebenernya aku mau bilang. Aku mohon balik sama aku yur.
Aku gak bisa tanpa kamu. Maaf waktu itu aku sudah kasar sama kamu. Aku emosi
lihat kamu sama Iwan terus. Aku mohon balik lagi sama aku yur” kata roziqin
“gak bisa roz. Aku gak bisa sama
kamu.”
“kenapa? Apa karna Iwan?”
Aku
terdiam. Tiba-tiba roziqin bernyanyi
Aku mohon… kepadamu..
Kembalilah.. kepadaku..
Karna tak kan pernah ada…
Yang mampu menggantikanmu..
Matanya
sedikit berair dan aku langsung menghentikan nyanyiaannya itu.
“udahlah roz! Aku sudah bilang
gak bisa sama kamu!”
Segera
kutinggalkan dia. Lalu dia berlari mengejarku
“udah sana ngapain kamu ikutin
aku” sentakku sedikit kasar
“ini coklat buat kamu. Kamu suka
coklat kan? Aku gak mau paksa kamu. Tapi aku janji, aku akan selalu jaga kamu.
Dimana pun dan kapan pun.”
Lalu
dia pergi dengan wajah kusut. Omongannya tak ku hiraukan. Aku hanya berfikir
untuk menjaga perasaan Iwan. Aku tau Iwan sebenarnya suka sama aku. Sahabat-
sahabatku pernah berkata kalo Iwan suka sama aku tapi malu untuk mengatakannya.
Iwan sendiri yang bilang lewat sahabat-sahabatku. Aku masih berharap lewat dia.
Aku yakin suatu saat Iwan akan nembak aku.
Malamnya.. aku
bersiap berangkat ke sekolah untuk pergi rekreasi. Di bus aku duduk dengan
anggrek dan novi. Mereka adalah teman sekelasku, tapi kami tak terlalu akrab.
Saat di bus kami hanya diam sembari mendengarkan lagu. Saat itu Iwan tak satu
bus denganku. Suasana itu membuatku semakin canggung dengan mereka. Tak lama HP
ku bergetar. Berharap itu Iwan yang bakal menemaniku.
Ggrr…ggrrr…
ada sms. Ku buka sms itu. Ternyata roziqin.
“tadi waktu di sekolah kamu sama
ibu ya. Hati-hati di jalan ya”
“iya”, begitu jawabku singkat
pada roziqin tanpa bertanya bagaimana dia bisa tau aku ke sekolah dengan ibuku.
Aku kembali tertidur pulas dengan di temani bantal kecilku.
“yur
bangun” kata novi sambil menepuk tanganku.
“ada
apa?” jawabku
“kita
kan mau nyebrang laut. Dah sampek ketapang nih. Kata pak Eko kita harus turun
dari bus dulu. Buruan yang lain dah pada turun itu”
“iya-iya”
jawabku sambil mengucek mata.
Kami
para rombongan pun turun dari bus. Sesaat dari kejauhan, aku melihat seorang
lelaki mendekatiku. Sepertinya Iwan. Ah.. ternyata benar.
“hay
wan” sapaku
“roziqin
satu bus denganku. Kenapa dia bisa ada di sini? Kamu bilang dia mau pergi ke
Bandung?” jawab Iwan dengan nada marah
“hah?
Masa’? aku gak tau kalo itu.”
Iwan
lalu begitu saja meninggalkanku. Fikirku itu tidak akan menggangu hubungan kita
kan. Kita masih bisa seneng-seneng bareng di Bali tanpa memperdulikan roziqin. Tapi
anehnya kenapa roziqin bohong sama aku ya? Halah sudahlah.. aku tak mau
memperdulikannya lagi.
Pukul
06.30 kami sampai di Bali J
pulau yang eksotis ini membuatku kagum dengan keindahan pantainya. Segera aku
ke toilet untuk mencuci muka dan keluar melihat indahnya Pantai Lovina dan sun
rise yang indah. Sembari berfoto bersama teman-teman sekelas, aku memerhatikan
sekelilingku. Dimana Iwan? Biasanya dia selalu deket sama aku. Lalu aku
bertanya pada agus teman satu bus nya.
“gus
lihat Iwan gak?”
“oh
dia lagi ngerokok di perumahan belakang tuh sama temen-temen nakalnya.” Jawab
agus.
“ok
makasih”
Haduh..
sayang banget. Bukannya lihat keindahan pantai, malah asik ngerokok sama
temen-temennya itu. Setelah beberapa saat, aku diajak Novi dan Anggrek untuk
melihat taman dekat pantai. Dari kejauhan sepertinya aku hafal dengan hem
kuning itu. Hah iya.. itu Iwan. Segera ku rapikan bajuku dan tersenyum
kepadanya. Dan ternyata saat kami berpapasan… apa? Dia sama sekali gak menolehku?
Hello Iwan.. ini Yuri yang selalu kamu panggil bebeb. Aku terdiam.. kecewa..
Apa yang buat
Iwan seperti itu? Ah mungkin dia gak tau kalo itu aku. Mungkin aja dia terlalu
asik dengan temannya hingga gak sadar kalo itu tadi aku. Hmm.. ya.. mungkin
seperti itu.
Tak lama aku
mengajak novi dan anggrek untuk istirahat dan sholat sejenak di sebuah masjid
besar. Setelah sholat kami bergegas kembali ke pantai. Tak banyak yang kami
bicarakan, karna memang kami sangat tak akrab walau satu kelas. Tiba di tepi
pantai, aku melihat teman-teman lainnya duduk di sana dengan Iwan. Aku
menghampiri mereka. Aku berharap Iwan melihatku saat itu.
Ternyata dia memang melihatku, tapi sengaja tak
menyapaku L
aku gak tau salahku dimana. Kalo memang karna roziqin yang tiba-tiba di Bali,
aku kan sudah bilang aku gak tau. Aku bahkan tak merencanakan hal ini.
Bayangkan saja, diantara teman-teman sekelas yang dia ajak ngobrol, hanya aku
yang tak dihiraukan.
Aku
mulai kesal melihat wajahnya. Saat akan menuju ke pulau kura-kura, aku bahkan
enggan ingin duduk satu kapal dengan teman-teman satu kelasku, karna pasti ada
dia. Beruntungnya aku ternyata ada sahabatku saat aku di kelas 2, nurul dan
Hilda. Aku senang naik kapal dengan mereka, mereka masih baik denganku dan kami
masih sangat akrab J
di sana aku bertemu roziqin. Kami tak saling sapa. Tak lama HP ku bergetar
lagi.
Ggrr..grrr….
roziqin sms aku.
“jangan di panasnya ya.. duduk
dulu jangan main air sama foto-foto’an terus”
Ya
ampun aku beruntung, di saat aku lagi kacau seperti ini, masih ada yang peduli.
Aku berpindah ke tempat dingin lalu membalas sms nya.
“iya roziqin. Ini aku sudah
pindah kok.”
Begitu
banyak tempat wisata yang kami jelajahi saat itu. Tentunya bersama ke dua
sahabatku. Malamnya kami beserta rombongan berkunjung ke pasar besar Krisna.
Aku meminta izin pada ke dua sahabatku itu untuk bersama novi dan anggrek
sebentar. Karna tak enak sendiri jika aku tak menghiraukan mereka juga.
“hai grek” sapaku
“oh hai” membalasnya dengan
senyuman
“mana novi?”
“tuh milih-milih baju di sana”
“oh.. aku juga. Kamu milih baju
buat sapa?”
“buat kakakku”
Tak
lama terdengar suara langkah kaki. Aku menoleh ke belakang. Hah? Itu kan Iwan?
Untuk apa dia menghampiriku? Apa dia mau minta maaf? Ah..sudahlah. aku
pura-pura memilih baju saja.
Seorang lelaki menepuk pundak
anggrek.
“hay grek? Lagi sibuk ndak?” sapa
Iwan
“ndak kok. Kenapa?”
“bisa minta tolong pilihin baju
buat ibuku ndak? Kamu kan cewek jadi pasti tau mana yang cocok.”
“oh boleh-boleh” jawab anggrek
dengan nada semangat.
Hah?
Apa dia bilang? Di sini kan ada aku! Kenapa dia lebih milih anggrek buat bantu
milih baju. Dia jahat! Dia gak peduli’in perasaanku. Air mataku mulai
menggenang sambil pura-pura ku pilih baju. Aku pengen nangis tapi di sini gak
ada sahabat-sahabatku. Kalo aku cerita ke nurul dan Hilda, mereka jelas gak tau
pasti jalan ceritanya. Lalu aku musti diam pura-pura milih baju gini? Ya
ampun.. sejelek inikah nasibku di Bali?
Tak
lama Seseorang memanggiku…
“Yuri?”
Siapa itu? Gak ada yang boleh tau
aku kececeran air mata gini. Buru-buru ku usap air mataku lalu ku balikkan
badanku.
“boleh minta tolong milihin baju
buat adek lila?”
Ya
ampun ternyata roziqin. Sepertinya dia tidak tau aku habis menangis. Segera ku
iyakan permintaanya itu. Lila.. dia adalah adik sepupu roziqin. Dia sangat
dekat dengan lila lantaran roziqin adalah anak sulung sekaligus anak bungsu.
Alias satu-satunya. Lila lah yang menemani roziqin bila dia sedang sendiri.
Umurnya sekitar 4 tahun.
Aku
pilih-pilihkan baju untuk lila. Kami saling ngobrol dan tertawa lepas. Dia
seperti malaikat yang selalu ada pada saat yang tepat. Untung di sini ada dia.
Kalo tidak, tak bisa ku bayangkan. Mungkin aku akan terus pura-pura milih baju
sambil nangis :D selanjutnya aku pergi ke tempat baju-baju wanita. Aku segera
memilih baju untukku dan untuk kakak, ibuku. Sepintas aku melihat Iwan dan
anggrek yang sedang memilih baju. Di sana aku berusaha ceria. Aku tertawa
lepas, membuktikan bahwa aku bisa bahagia tanpa Iwan. Sesekali aku melihat Iwan
melirikku dengan wajah kesal. Biarkan saja! Siapa suruh dia sia-siakanku dari
sejak pagi tadi.
Belanja
selesai, saatnya ke kasir. roziqin memberi beberapa lembar uang padaku. Haha..
hellooo.. cewek mana yang gak mau di belanja’in. segera ku ambil uang itu lalu
sisanya ku kembalikan lagi pada roziqin. Setelah itu kami berjalan ke lobby
sambil menunggu rombongan yang lain kembali ke bus.
“kaki kamu kenapa?”
“oh ini.. lecet”
Saat
itu kakiku memang sangat lecet. Ada sekitar 4 luka di sekitar kaki kananku, sehingga
membuat jalanku sedikit menyeret.
“sini aku gendong”
“gak mau”
‘kenapa?”
“malu tau di liatin banyak orang”
“ ya sudah aku gak mau paksa
kamu”
“kemarin kamu bilang mau ke
Bandung? Kenapa sekarang ada di sini?”
“oh.. memang sebenarnya iya. Tapi
aku batalin. Aku khawatir aja sama kamu denger sahabat-sahabat kamu gak ada
yang ikut. Kan gak ada yang jagain kamu. Ya udah tadi sore aku buru-buru ke
rumah pak Vandi buat tanyak apa masih ada kursi kosong di bus. Alhamdulillah
masih ada.”
“oh.. makasih ya”
Sangat
lama kami berbincang , lalu kembali ke bus masing-masing dan on the way menuju
peristirahatan hotel. Di sana aku satu kamar dengan Hilda dan nurul. HP ku
kembali bergetar. Lagi-lagi Roziqin sms.
“barusan aku sudah beli betadine
di warung depan. Pas mau aku anter ke kamar cewek, kata pak Vandi gak boleh.
Jadi besok pagi-pagi aja ya aku kasihin obatnya.”
“iya ndak papa makasih ya. Aku
ngantuk mau tidur dulu. Dada” begitu jawabku saat menerima sms dari roziqin.
HP
ku kembali bergetar. Mungkin balasan roziqin tadi.
“kata anak-anak kaki kamu luka
ya?”
Hah?
Ternyata ini sms Iwan. Rasanya senang dia sms. Tapi setelah ku ingat-ingat
kejadian tadi, ingin ku cekik dia rasanya. Aku ingin balas sms nya dengan
omelanku. Tapi badanku sudah tak berdaya, tenagaku sudah habis, mataku tak
tahan menahan kantuk. Aku tak mau kehabisan waktu jam tidurku. Maka aku
memutuskan untuk membalas singkat sms nya.
“sudah gak papa” jawabku. HP ku
kembali bergetar lalu kulihat.
“iya sudah lain kali hati-hati”
Setelah melihat balasan sms nya aku memejamkan mataku sambil menahan rasa
emosiku dan akhirnya tertidur lelap.
Esoknya
roziqin menepati janjinya. Saat sarapan dia memberiku sebotol betadine kecil
untuk kakiku. It’s so sweet. J
lalu kami melihat pertunjukan Tari Barong dan berfoto bersama penarinya.
Sepintas aku melihat fira bersama cowok barunya entah siapa namanya. Tak ku
hiraukan, aku kembali pergi menuju bus ku itu. Aku hanya membatin “awas saja
kalo dia sudah punya cowok dan masih ganjen dengan roziqin”
Sorenya
kami serombongan menuju Pantai Kuta. Aku masih bersama roziqin menikmati
deburan ombak dan melihat indahnya sunset. Ku lihat dari kejauhan Iwan
memperhatikkanku dengan Roziqin. Biar saja, biar dia tau rasa! Walau pada
awalnya aku menginginkan Iwan lha yang berada di sampingku. Tapi dia mengingkari
janjinya untuk menjagaku di Bali.
Mulai
larut malam, kami kembali ke bus untuk segera pulang ke kota tercinta.
Kembali.. kami harus menyebrangi laut dan harus turun dari bus. Di kapal.. aku
bersama roziqin melihat indahnya laut saat malam hari dan bintang-bintang yang
menemani kami. So sweet..
“aku tepati janjiku kan Yuri? Aku
gak akan biarin kamu sendiri, gak ada yang jagain gini.”
“iya.. makasih ya roziqin”
Ku
tatap bola matanya. Begitu baiknya seseorang ini padaku. Padahal baru 2 hari
kemarin aku menyentaknya. Kemanapun dimanapun.. saat aku ingin ini itu, dia
bahkan menurutinya. Makan, minum, belanja, bahkan obat merah tadi yang tak ku inginkan. Aku berhutang budi padanya.
Sesaat
setelah itu kami turun dari kapal menuju bus tadi. Dia gandeng erat tanganku
saat akan turun, aku tatap dia. Haaahhh… begitu indahnya malam ini. Tak ingin
ku lewatkan rasanya.
Kami berpisah
di bus dan tak lama aku mendengar kabar terbaru yang sedang jadi perbincangan
di bus saat itu. Tau apa? Kabarnya saat di kapal fira yang ganjen itu lagi
berbuat mesum sama cowok barunya. Haha :D dasar cewek ganjen, udah ganjen
murahan lagi. Tak habis-habisnya dia di semprot oleh semua guru di bus.
Haduuh.. lagi di kapal masih aja berbuat yang aneh-aneh.
Dua
hari setelah kepulangan kami dari Bali, kami kembali ke sekolah untuk mengurus
ijazah, SKHU, dll. Aku bertemu sahabat-sahabatku, ku ceritakan semua yang di
Bali. Mereka kecewa dengan perlakuan Iwan. Iyalah! Aku aja yang di gituin
kecewa banget. Kami berenam sepakat tak saling sapa Iwan.
Esoknya
kami masih harus sekolah, karna urusan surat-surat belom selesai. Terdengar
kabar yang beredar… Iwan pacaran sama melin adik kelasku yang masih kelas 1
itu. Apa? Bukannya Melin dulu pernah di labrak sama Iwan lantaran aksi
centilnya itu. Memang Melin sangat mengagumi Iwan lantaran wajahnya yang
ganteng. Tapi bukannya dulu mereka pernah bertengkar hebat. Lalu secepat itu
kah Iwan lupain aku?
Aku
menangis terseduh di kamar. Tak kuat membendung semua ini. Sakit rasanya. Apa
yang sebenarnya di pikirkan oleh Iwan? Sekian bulan aku menunggu dia buat
nembak aku. Dan sekarang dia malah pacaran sama Melin yang dulu dia benci? Ya
Tuhan…
Aku
berusaha tenangin diriku selama beberapa hari, walau sedikit susah. Memang ada
roziqin, tapi aku tak ingin mencerikan ini. Parahnya setiap aku buka facebook,
foto-foto Melin sama Iwan terus mejeng di berandaku itu. Sakitnya bukan main.
Aku memutuskan untuk delete semua tentang Iwan. Bahkan aku masih tak mau sapa
Iwan walau dia menyapaku. Hubunganku dengan roziqin juga hanya berjalan sebagai
seorang sahabat.
Menjelang
acara tahunan perpisahan, Iwan memaksaku
untuk bertemu dengannya.
“aku minta maaf ya Yur, sudah
salah paham sama kamu waktu di Bali. Aku emang bodoh sudah sia-sia’in kamu.”
“iya gak papa wan.”
Pada
akhirnya hubungan kami berakhir sebagai
teman. Gak ada lagi beb-beb’an atau apalah itu. Roziqin masih menjadi
sahabatku. Aku mulai mengenal dunia SMA. Aku berpacaran dengan seorang lelaki
bernama Tama. Aku temukan sahabat yang baik-baik kepadaku.
Menjelang
usiaku yang akan 16 tahun ini, aku mengundang ke lima sahabat SMA ku. Reta,
disya, purna, tyar, dan Dwi. Tak lupa Tama ku undang. Aku juga mengundang
sahabat SMP ku termasuk Iwan. Tapi saat itu yang bisa datang hanya Nita, Iwan
dan Amel.
Saat
itu aku mengharap kedatangan Iwan. Tapi dia datang terlambat. Tau apa yang dia katakan
pertama kali masuk rumahku?
“lho ada apa ini yur kok
rame-rame?
“aku ulang tahun Wan.” L
“oh maaf ya.. habisnya kamu gak
bilang sih ada acara apa.”
Hhmmm..
ternyata dia tak mengingat hari ulang tahunku. Aku cukup kecewa, tapi tak
sesakit dulu saat aku belom bertemu Tama. Roziqin tak sempat ku undang karna
dia saat itu lagi gak megang HP nya.. soo.. kami last contact sementara.
Tak
lama setelah seminggu aku berulang tahun, Iwan sms aku.
“yur, sorry aku lancang. Tapi aku
dari kemarin kepikiran kamu. Aku masih ngerasa bersalah soal kejadian SMP. Kamu
mau gak balik kayak dulu lagi?”
Aku
kaget membaca sms nya. Berarti dia belom tau aku sudah punya pacar. Aku memang
sempat berfikir pada saat itu, belom pacaran saja, dia pernah menyakiti aku
sampai sesakit itu. Bagaimana kalo pacaran? Belom lagi kan aku sudah sama Tama.
Dan betapa tak tau dirinya, dia sudah tak ingat dengan hari spesialku, lalu
memintaku untuk kembali kepadanya seperti dulu. Lalu ku balas sms nya.
“gak bisa wan. Kita jalani hidup
masing-masing aja.”
“iya sudah gak papa. Makasih ya”
balasnya.
Tiga
hari setelah itu, aku melihat akun facebooknya. Oh ternyata… tak di
sangka-sangka Iwan langsung memasang status ‘sayang-sayangan’ sama pacar
barunya. Padahal baru 3 hari kemarin dia memohon padaku. Rasa kecewa tak
terlalu besar di benakku, karna sudah tak ada lagi rasa dengannya.
Dua bulan
kemudian, roziqin sms aku dengan nomor barunya. Aku masih bersahabat baik
sampai sekarang dengannya. Terkadang kami masih suka bertemu, untuk melepas
rindu. Tapi hanya sekedar sebagai
sahabat.
Dan Iwan… aku bingung,
apa yang ada di otaknya sekarang ini? Apa dia memang lelaki yang sangat mudah
jatuh cinta? Atau sekarang dia jadi terlalu terjerumus ke dalam dunia SMA nya
itu?
Entahlah.. cinta memang tak
semudah perkataannya. Terkadang semua yang di harapkan.. memang tak sesuai
dengan rencana kita.
Jadi
pada akhirnya… mantanku menjadi sahabat terindahku, TTM ku menjadi teman
biasaku dan aku menemukan Tama sebagai pacarku J
TAMAT